Recent post
Acara Agustusan
Foto kelas waktu selesai Agustusan w/ p.Mispan :D.
Nonton Bareng
Nonton Bareng Insidious 2 @DiengPlaza
HBD SuperCLod
Ultah Freaknya SuperClod, mau lihat betapa freaknya ?
Menjelang Makan Agustusan
Sambil menanti makan, Narsis dulu :p
Nama : Laurentius Ivan T
No : 16
Kegiatan Live In yang diadakan oleh Santa Maria Malang, diselenggarakan pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 2 November 2013. Kegiatan Live In diadakan di Desa Peniwen, kecamatan Kromengan, kabupaten Malang. Kegiatan Live In diadakan selama 3 hari 2 malam. Live In yang diadakan memiliki tema “Doctors Three” yang artinya Do Care to Others Through Experiencing Education. Dengan tema tersebut kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan pada siswa siswi untuk dapat peka dan tanggap terhadap sesame. Selain itu, melalui kegiatan ini siswa siswi diajak untuk bisa saling membantu dan peduli terhadap sesama. Siswa siswi juga di ajak untuk bisa hidup secara sederhana dengan masyarakat sekitar.
Pada kegiatan Live In ini saya bertempat tinggal di dusun kampung tengah, di rumah Ibu Yayun. Ibu Yayun memiliki sebuah took di dusun kampong tengah. Pada hari pertama tinggal di rumah Ibu Yayun saya diajari cara memetik buah jambu yang sudah matang. Pada sore hari, saya dan teman teman juga membantu kedua orang tua asuh saya untuk menyiapkan doa lingkungan bersama dengan masyarakat kelompok 2 dusun kampong tengah. Pada malam hari saya ikut serta bersama keluarga mengikuti doa lingkungan bersama bersama masyarakat sekitar.
Pada hari kedua, saya mengikuti kegiatan out bond yang diadakan oleh panitia kegiatan Live In. Kegiatan out bond yang saya ikuti ini sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman yang indah. Dalam kegiatan out bond ini terdapat 5 pos, yaitu tempat untuk bermain bersama sesame anggota kelompok guna meningkatkan kekompakan anggota kelompok. Kegiatan out bond ini berjalan dengan sangat baik dan menyenangkan. Setelah kegiatan out bond selesai, saya dan seluruh teman teman mengikuti kegiatan makan bersama di tengah sawah. Setelah kegiatan makan bersama ini saya kembali ke rumah orang tua asuh saya untuk persiapan pulang, sebab pada hari Sabtu nanti saya akan mengikuti lomba. Tetapi saya telah bersyukur masih dapat merasakan serunya mengikuti kegiatan Live In.
Kegiatan Live In yang saya ikuti ini telah memberikan banyak manfaat bagi saya. Melalui kegiatan ini saya telah belajar banyak hal mengenai hidup sederhana dan mandiri. Melalui kegiatan Live In ini saya semakin kompak bersama dengan teman teman saya. Semoga kegiatan Live In ini masih dapat terus di adakan pada tahun tahun kedepan, sebab kegiatan ini telah memberikan banyak pelajaran hidup yang baik bagi masa depan.
Kegiatan Live In yang diadakan oleh Santa Maria Malang, diselenggarakan pada tanggal 31 Oktober sampai dengan 2 November 2013. Kegiatan Live In diadakan di Desa Peniwen, kecamatan Kromengan, kabupaten Malang. Kegiatan Live In diadakan selama 3 hari 2 malam. Live In yang diadakan memiliki tema “Doctors Three” yang artinya Do Care to Others Through Experiencing Education. Dengan tema tersebut kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan pada siswa siswi untuk dapat peka dan tanggap terhadap sesame. Selain itu, melalui kegiatan ini siswa siswi diajak untuk bisa saling membantu dan peduli terhadap sesama. Siswa siswi juga di ajak untuk bisa hidup secara sederhana dengan masyarakat sekitar.
Pada kegiatan Live In ini saya bertempat tinggal di dusun kampung tengah, di rumah Ibu Yayun. Ibu Yayun memiliki sebuah took di dusun kampong tengah. Pada hari pertama tinggal di rumah Ibu Yayun saya diajari cara memetik buah jambu yang sudah matang. Pada sore hari, saya dan teman teman juga membantu kedua orang tua asuh saya untuk menyiapkan doa lingkungan bersama dengan masyarakat kelompok 2 dusun kampong tengah. Pada malam hari saya ikut serta bersama keluarga mengikuti doa lingkungan bersama bersama masyarakat sekitar.
Pada hari kedua, saya mengikuti kegiatan out bond yang diadakan oleh panitia kegiatan Live In. Kegiatan out bond yang saya ikuti ini sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman yang indah. Dalam kegiatan out bond ini terdapat 5 pos, yaitu tempat untuk bermain bersama sesame anggota kelompok guna meningkatkan kekompakan anggota kelompok. Kegiatan out bond ini berjalan dengan sangat baik dan menyenangkan. Setelah kegiatan out bond selesai, saya dan seluruh teman teman mengikuti kegiatan makan bersama di tengah sawah. Setelah kegiatan makan bersama ini saya kembali ke rumah orang tua asuh saya untuk persiapan pulang, sebab pada hari Sabtu nanti saya akan mengikuti lomba. Tetapi saya telah bersyukur masih dapat merasakan serunya mengikuti kegiatan Live In.
Kegiatan Live In yang saya ikuti ini telah memberikan banyak manfaat bagi saya. Melalui kegiatan ini saya telah belajar banyak hal mengenai hidup sederhana dan mandiri. Melalui kegiatan Live In ini saya semakin kompak bersama dengan teman teman saya. Semoga kegiatan Live In ini masih dapat terus di adakan pada tahun tahun kedepan, sebab kegiatan ini telah memberikan banyak pelajaran hidup yang baik bagi masa depan.
Nama : Yuliana Kristanti
No : 33
Pada tanggal 31 Oktober-2 Nove
mber SMAK Santa Maria Malang mengadakan kegiatan live in untuk seluruh siswa kelas 11. Kegiatan live in tahun ini diadakan di Desa Peniwen, Kec. Kromengan. Kegiatan live in tahun ini bertemakan “DOCTORS THREE” yang merupakan singkatan dari Do Care to Others Through Experiencing Education yang dalam bahasa Indonesia berarti peduli kepada sesama melalui pengalaman hidup. Dalam kegiatan live in ini kita belajar untuk peduli kepada sesama terutama kepada orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Selain itu, kita belajar dan memperoleh pendidikan lewat pengalaman hidup yang kita jalani. Kegiatan live in ini sangat bermanfaat karena dapat mengembangkan karakter kita, terutama dapat mengembangkan kepekaan kita terhadap sesama.
Susunan acara kegiatan live in pada tanggal 31 Oktober adalah sebagai berikut
06.55-08.30 Misa
08.30-09.30 Final Briefing
09.30-10.00 Persiapan berangkat
10.00-11.30 Perjalanan menuju tempat live in
11.30-12.30 Perkenalan tentang Desa Peniwen dan program gereja
12.30-13.00 Makan siang
13.00-14.00 Penjelasan program dan tata tertib
14.00-15.00 Distribusi homestay
15.00-18.30 Berinteraksi dan mengenal keluarga
18.30-20.00 Petuwen (Doa setempat)
20.00-21.00 Berinteraksi-Istirahat
Pada hari pertama live in, sebelum berangkat menuju Desa Peniwen seluruh siswa SMAK Santa Maria mengikuti misa untuk memohon keselamatan bagi siswa-siswi kelas 11 dalam mengikuti kegitan live in. Setelah misa, acara dilanjutkan denganunt briefing kemudian foto per kelas bersama dengan wali kelas. Pukul 09.30 kami bersiap-siap uk berangkat, sebelum berangkat kami dibagikan snack dan buku live in sebagai panduan susunan acara dan sebagai refleksi. Kami berangkat menggunakkan truk tentara, dan ada 7 truk. Sehingga kami dibagi menjadi 7 kelompok truk.
Selama perjalanan kami saling mengobrol di truk bercanda gurau bersama. Satu setengah jam kemudian kami sampai di Peniwen, kami berkumpul di GKJW Peniwen. Sesampainya di sana kami disambut ramah oleh penduduk setempat. Di dalam gereja kami mendapat penjelasan tentang Desa Peniwen dan program gereja, lalu kami makan siang bersama. Setelah selesai makan siang kami diberi penjelasan program dan tata tertib. Setelah itu, kami pergi ke rumah homestay. Di Desa Peniwen hanya 3 dusun yang digunakan untuk homestay yaitu Dusun Kalongan, Kampung Tengah, dan Putukrejo. Selain itu, kami juga dibagi dalam kelompok-kelompok live in untuk menempati rumah homestay. Saya satu kelompok dengan Yola, Vian, dan Yessi. Kami mendapat rumah homestay di Dusun Kalongan
Sesampai di rumah homestay saya beserta teman-teman disambut ramah oleh keluarga tersebut. Di rumah yang kami tinggali hanya terdiri dari 2 orang yaitu Bu Arum pemilik rumah dan Mak Ning. Bu Arum menderita penyakit stroke sehingga beliau hanya bias berbaring di tempat tidur dan Mak Ning yang merawat dan membantu Bu Arum. Setelah berkenalan, kami menata barang bawaan. Ketika hari sudah sore kami membantu Mak Ning memasak untuk makan sore. Setelah masakan kami sudah matang, kami berempat makan, lalu kami bergantian untuk mandi.
Setelah itu kami bersiap-siap untuk mengikuti petuwen pada pukul 18.30. Petuwen adalah doa yang dilakukan setiap hari Kamis. Dalam petuwen kami mendapatkan penerangan iman. Setelah petuwen selesai, umat yang datang mendapatkan santapan malam. Setelah itu kami pulang. Di rumah, kami menemani Mak Ning mengobrol dan menonton TV, hari semakin larut dan kami pun pergi tidur.
Susunan acara kegiatan live in pada tanggal 1 November adalah sebagai berikut
04.00-07.30 Bangun dan membantu kegiatan sehari-hari
07.30-13.00 Outbond
13.00-17.30 Interaksi dengan anggota keluarga
17.30-21.00 Sarasehan
21.00-22.00 Api unggun
22.00- Istirahat
Pada hari kedua, kami berempat bangun pukul 4 pagi. Lalu kami membantu Mak Ning memasak, kami membagi tugas satu sama lain. Saya juga menyapu rumah dan teras depan. Lalu saya dan Yessi juda memberi makan ayam, sambil menunggu masakannya matang. Setelah matang, kami sarapan lalu berbincang-bincang sebentar di teras depan. Kemudian kami bergantian mandi dan bersiap-siap menuju gereja untuk mengikuti outbond.
Setelah sampai di gereja, kami baris sesuai dengan kelompok outbond. Kemudian kami mendapat tugas untuk membuat yel-yel per kelompok. Kami berangkat dari kelompok 1 kemudian disusul kelompok 2. Saya masuk dalam kelompok 5. Kami melewati jalan setapak, lalu kami juga melewati pematang sawah. Di sekeliling kami terbentang sampah yang luas dan hijau. Di outbond terdapat 5 pos pemberhentian, dan setiap pos terdapat game yang harus kami kerjakan. Setelah melewati 4 pos dan berjalan cukup jauh, walaupun melelahkan tetapi pemandangan yang ada di sekeliling sungguh indah dan asri. Kami sampai di pos 5 yang merupakan pos terakhir dan pos untuk istirahat. Setelah semua kelompok sampai di pos 5, kami menyantap makan siang yang sudah disediakan. Lalu kami pulang ke rumah homestay masing-masing.
Di rumah homestay, saya beristirahat sambil menunggu teman-teman yang lain pulang. Lalu kami beristirahat sambil berbincang-bincang ringan. Karena habis outbond, badan terasa panas dan kotor maka kami bergantian mandi. Hari sudah sore dan kami membantu Mak Ning memasak untuk makan sore. Setelah itu kami makan dan bersiap-siap pergi ke gereja untuk mengikuti sarasehan. Sarasehan adalah pencerahan iman khusus remaja, sehingga kami bergabung dengan remaja-remaja Peniwen. Setelah sarasehan selesai acara dilanjutkan dengan api unggun. Setiap kelas menampilkan pertunjukan yang menghibur. Acara sudah selesai dan hari sudah larut malam, kami pun pulang ke rumah homestay masing-masing dan beristirahat
Susunan acara kegiatan live in pada tanggal 2 November adalah sebagai berikut
04.00-07.00 Kegiatan sehari-hari
07.30-10.00 Kegiatan sehari-hari dan packing
10.00-11.30 Ramah tamah
11.30-12.30 Makan siang
12.30- Pulang
Pada hari ketiga kami bangun agak kesiangan karena acara kemarin benar-benar padat dan melelahkan. Tetapi kami tetap membantu Mak Ning memasak dan menyapu rumah. Setelah itu, kami makan lalu bersantai di teras depan. Setelah puas, kami bergantian mandi. Selesai mandi, kami pun packing dan mengucapkan perpisahan dengan Mak Ning serta mengucapkan terima kasih karena telah diterima dengan baik selama live in dan juga meminta maaf bila ada kesalahan. Lalu kami menuju gereja, di gereja kami beramah tamah dengan perwakilan Peniwen. Kemudian kami makan siang sambil menunggu truk datang, setelah truk datang kami pun pulang ke Malang.
Selama live in, saya menjadi sadar bahwa hidup yang saya miliki sekarang lebih dari cukup. Saya bersyukur atas berkat yang telah Tuhan berikan kepada saya, karena di luar sana masih banyak orang yang hidupnya kekurangan dan kurang beruntung. Selain itu, saya bersyukur atas alam yang telah Tuhan berikan dengan cuma-cuma dan dapat memenuhi kebutuhan kita. Selain itu, saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain terutama dengan orang-orang baru. Saya juga belajar dari masyarakat Peniwen tentang kerja keras, rasa kekeluargaan dan gotong royong. Live in selama 3 hari benar-benar berkesan bagi saya dan sangat bermanfaat.
mber SMAK Santa Maria Malang mengadakan kegiatan live in untuk seluruh siswa kelas 11. Kegiatan live in tahun ini diadakan di Desa Peniwen, Kec. Kromengan. Kegiatan live in tahun ini bertemakan “DOCTORS THREE” yang merupakan singkatan dari Do Care to Others Through Experiencing Education yang dalam bahasa Indonesia berarti peduli kepada sesama melalui pengalaman hidup. Dalam kegiatan live in ini kita belajar untuk peduli kepada sesama terutama kepada orang-orang yang hidupnya tidak seberuntung kita. Selain itu, kita belajar dan memperoleh pendidikan lewat pengalaman hidup yang kita jalani. Kegiatan live in ini sangat bermanfaat karena dapat mengembangkan karakter kita, terutama dapat mengembangkan kepekaan kita terhadap sesama.Susunan acara kegiatan live in pada tanggal 31 Oktober adalah sebagai berikut
06.55-08.30 Misa
08.30-09.30 Final Briefing
09.30-10.00 Persiapan berangkat
10.00-11.30 Perjalanan menuju tempat live in
11.30-12.30 Perkenalan tentang Desa Peniwen dan program gereja
12.30-13.00 Makan siang
13.00-14.00 Penjelasan program dan tata tertib
14.00-15.00 Distribusi homestay
15.00-18.30 Berinteraksi dan mengenal keluarga
18.30-20.00 Petuwen (Doa setempat)
20.00-21.00 Berinteraksi-Istirahat
Pada hari pertama live in, sebelum berangkat menuju Desa Peniwen seluruh siswa SMAK Santa Maria mengikuti misa untuk memohon keselamatan bagi siswa-siswi kelas 11 dalam mengikuti kegitan live in. Setelah misa, acara dilanjutkan denganunt briefing kemudian foto per kelas bersama dengan wali kelas. Pukul 09.30 kami bersiap-siap uk berangkat, sebelum berangkat kami dibagikan snack dan buku live in sebagai panduan susunan acara dan sebagai refleksi. Kami berangkat menggunakkan truk tentara, dan ada 7 truk. Sehingga kami dibagi menjadi 7 kelompok truk.
Selama perjalanan kami saling mengobrol di truk bercanda gurau bersama. Satu setengah jam kemudian kami sampai di Peniwen, kami berkumpul di GKJW Peniwen. Sesampainya di sana kami disambut ramah oleh penduduk setempat. Di dalam gereja kami mendapat penjelasan tentang Desa Peniwen dan program gereja, lalu kami makan siang bersama. Setelah selesai makan siang kami diberi penjelasan program dan tata tertib. Setelah itu, kami pergi ke rumah homestay. Di Desa Peniwen hanya 3 dusun yang digunakan untuk homestay yaitu Dusun Kalongan, Kampung Tengah, dan Putukrejo. Selain itu, kami juga dibagi dalam kelompok-kelompok live in untuk menempati rumah homestay. Saya satu kelompok dengan Yola, Vian, dan Yessi. Kami mendapat rumah homestay di Dusun Kalongan
Sesampai di rumah homestay saya beserta teman-teman disambut ramah oleh keluarga tersebut. Di rumah yang kami tinggali hanya terdiri dari 2 orang yaitu Bu Arum pemilik rumah dan Mak Ning. Bu Arum menderita penyakit stroke sehingga beliau hanya bias berbaring di tempat tidur dan Mak Ning yang merawat dan membantu Bu Arum. Setelah berkenalan, kami menata barang bawaan. Ketika hari sudah sore kami membantu Mak Ning memasak untuk makan sore. Setelah masakan kami sudah matang, kami berempat makan, lalu kami bergantian untuk mandi.Setelah itu kami bersiap-siap untuk mengikuti petuwen pada pukul 18.30. Petuwen adalah doa yang dilakukan setiap hari Kamis. Dalam petuwen kami mendapatkan penerangan iman. Setelah petuwen selesai, umat yang datang mendapatkan santapan malam. Setelah itu kami pulang. Di rumah, kami menemani Mak Ning mengobrol dan menonton TV, hari semakin larut dan kami pun pergi tidur.
Susunan acara kegiatan live in pada tanggal 1 November adalah sebagai berikut
04.00-07.30 Bangun dan membantu kegiatan sehari-hari
07.30-13.00 Outbond
13.00-17.30 Interaksi dengan anggota keluarga
17.30-21.00 Sarasehan
21.00-22.00 Api unggun
22.00- Istirahat
Pada hari kedua, kami berempat bangun pukul 4 pagi. Lalu kami membantu Mak Ning memasak, kami membagi tugas satu sama lain. Saya juga menyapu rumah dan teras depan. Lalu saya dan Yessi juda memberi makan ayam, sambil menunggu masakannya matang. Setelah matang, kami sarapan lalu berbincang-bincang sebentar di teras depan. Kemudian kami bergantian mandi dan bersiap-siap menuju gereja untuk mengikuti outbond.
Setelah sampai di gereja, kami baris sesuai dengan kelompok outbond. Kemudian kami mendapat tugas untuk membuat yel-yel per kelompok. Kami berangkat dari kelompok 1 kemudian disusul kelompok 2. Saya masuk dalam kelompok 5. Kami melewati jalan setapak, lalu kami juga melewati pematang sawah. Di sekeliling kami terbentang sampah yang luas dan hijau. Di outbond terdapat 5 pos pemberhentian, dan setiap pos terdapat game yang harus kami kerjakan. Setelah melewati 4 pos dan berjalan cukup jauh, walaupun melelahkan tetapi pemandangan yang ada di sekeliling sungguh indah dan asri. Kami sampai di pos 5 yang merupakan pos terakhir dan pos untuk istirahat. Setelah semua kelompok sampai di pos 5, kami menyantap makan siang yang sudah disediakan. Lalu kami pulang ke rumah homestay masing-masing.
Di rumah homestay, saya beristirahat sambil menunggu teman-teman yang lain pulang. Lalu kami beristirahat sambil berbincang-bincang ringan. Karena habis outbond, badan terasa panas dan kotor maka kami bergantian mandi. Hari sudah sore dan kami membantu Mak Ning memasak untuk makan sore. Setelah itu kami makan dan bersiap-siap pergi ke gereja untuk mengikuti sarasehan. Sarasehan adalah pencerahan iman khusus remaja, sehingga kami bergabung dengan remaja-remaja Peniwen. Setelah sarasehan selesai acara dilanjutkan dengan api unggun. Setiap kelas menampilkan pertunjukan yang menghibur. Acara sudah selesai dan hari sudah larut malam, kami pun pulang ke rumah homestay masing-masing dan beristirahat
Susunan acara kegiatan live in pada tanggal 2 November adalah sebagai berikut
04.00-07.00 Kegiatan sehari-hari
07.30-10.00 Kegiatan sehari-hari dan packing
10.00-11.30 Ramah tamah
11.30-12.30 Makan siang
12.30- Pulang
Pada hari ketiga kami bangun agak kesiangan karena acara kemarin benar-benar padat dan melelahkan. Tetapi kami tetap membantu Mak Ning memasak dan menyapu rumah. Setelah itu, kami makan lalu bersantai di teras depan. Setelah puas, kami bergantian mandi. Selesai mandi, kami pun packing dan mengucapkan perpisahan dengan Mak Ning serta mengucapkan terima kasih karena telah diterima dengan baik selama live in dan juga meminta maaf bila ada kesalahan. Lalu kami menuju gereja, di gereja kami beramah tamah dengan perwakilan Peniwen. Kemudian kami makan siang sambil menunggu truk datang, setelah truk datang kami pun pulang ke Malang.
Selama live in, saya menjadi sadar bahwa hidup yang saya miliki sekarang lebih dari cukup. Saya bersyukur atas berkat yang telah Tuhan berikan kepada saya, karena di luar sana masih banyak orang yang hidupnya kekurangan dan kurang beruntung. Selain itu, saya bersyukur atas alam yang telah Tuhan berikan dengan cuma-cuma dan dapat memenuhi kebutuhan kita. Selain itu, saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain terutama dengan orang-orang baru. Saya juga belajar dari masyarakat Peniwen tentang kerja keras, rasa kekeluargaan dan gotong royong. Live in selama 3 hari benar-benar berkesan bagi saya dan sangat bermanfaat.
Nama : Sri Widayanti
No : 29
ini mengangkat tema “DOCTORS 3”. DOCTORS 3 kependekan dari Do Care To Others Through Experiencing Education. Dengan tema ini diharapkan kegiatan Live In pada tahun ini para siswa dapat memberikan kepeduliannya terhadap sesama dan dengan kegiatan ini diharapkan para siswa dapat belajar melalui pengalaman yang mereka rasakan selama 3 hari 2 malam di Desa Peniwen. Menurut saya tema Live In pada tahun ini baik, dengan tema itu kami sebagai siswa harus dapat peduli dan merasa sama rasa dengan masyarakat di Desa Peniwen. Dengan tema ini kami dapat mengerti tujuan diadakannya kegiatan ini. Saya mencoba untuk menggali banyak pengalaman dari kegiatan ini, dan saya sadar bahwa pengalaman merupakan guru yang terbaik bagi kita. Dengan diadakan kegiatan ini, saya menjadi lebih mengerti dan ingin menghargai pemberian yang telah Dia berikan kepada kita. Dan saya sadar masih banyak yang tidak seberuntung saya. Kegiatan ini sangat berguna bagi saya, meskipun dalam prosesnya terkadang saya juga merasa sebal.
Dari kegiatan ini saya mengalami banyak sekali hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Pada hari pertama sebelum berangkat, kami melakukan Doa Rosario yang kemudian dilanjutkan dengan misa. Setelah misa usai, kita mendapat breefing singkat dari Bapak Kepala Sekolah. Setelah selesai breefing dan foto kelas, kita berangkat dengan menggunakan truk. Sesampainya disana kami diberi perkenalan tentang Desa Peniwen di gereja, tetapi sebelumnya kami makan siang terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan pengarahan dan pembagian homestay. Saat pembagian homestay kita harus berjalan cukup jauh, dengan bawaan yang banyak, terutama saya dapat rumah paling atas, itu membuat saya cukup untuk bad mood. Sesampainya di rumah betapa leganya kita, kemudian kita mulai memperkenalkan diri kami kepada pemilik rumah, mereka sangat baik sekali dengan kami, di rumah itu kami merasa sangat dimanja, bahkan lebih dimanja daripada di rumah sendiri.
Saat free time, kita mencoba untuk membantu menyiapkan makan malam. Sebenarnya saya kepingin keluar waktu itu, mengetahui teman-teman yang lain malah jalan-jalan. Ya, tapi karena sudah terlanjur membantu, tidak enak juga untuk tiba-tiba pergi, jadi ya hari itu sampai malam kami putuskan untuk di rumah membantu ibu. Saat malam harinya kami mengikuti kegiatan Patuwen, disana kami bertemu kembali dengan teman-teman, serasa rumah itu jadi penuh dengan anak-anak Santa Maria, sebenarnya saya jadi tidak enak juga karena kami duduk di dalam sedangkan warga malah duduk di luar. Ya tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur, acara doa itu menggunakan bahasa jawa, dan dengan cara ibadat Kristen, jadi saya tidak dapat mengerti apa yang sedang diomongkan oleh mereka, dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, alhasil akhirnya kita hanya bisa mengikuti acara semengerti kita.
Setelah pulang dari Petuwen, sebenarnya saya sudah ingin beristirahat, tapi karena teman saya minta hpnya cepat dikembalikan, jadinya saya kembali ke gereja tempat perkenalan tadi siang. Di jalan itu merupakan pengalaman baru bagi saya, di tengah ketakutan saya pulang dan pergi cuma berdua dengan teman cewek pula, saat berdua jalan malam di desa sungguh tidak seperti kita di kota, kalau di kota jam sekian, jalanan masih sangat ramai, sedangkan di desa sudah tidak ada satu pun yang keluar dari rumah. Di desa itu juga banyak sekali anjing sehingga kita berdua sangat takut karena sudah malam, sekaligus pulang pergi harus berhadapan dengan banyak anjing yang menggonggong ke arah kita. Sesampainya di rumah kita berdua mandi keringat dan gemetaran, karena telah mengalami kejadian buruk pada malam pertama.
Dari kejadian itu membuat kita berdua tidak bisa untuk tidur sampai jam 12 malam, baru kita mulai dapat untuk terlelap. Hari kedua, pagi hari kami bangun pukul setengah 6, kemudian kami membantu ibu sebentar untuk membersihkan rumah, kemudian kami pun sibuk untuk bersiap-siap berangkat ke gereja. Hari kedua acara kita adalah outbond, tetapi kegiatan ini molor, sampai hampir siang, ya banyak sudah gerutuan yang telah kita ucapkan karena kemunduran jadwal ini, apalagi udara hari itu sangat panas sekali. Akhirnya outbond pun dimulai juga, saat badan sudah berkeringat karena panas dan rute yang lumayan panjang, di pos 1 kita disuruh untuk bermain air, hal ini juga membuat kesebalan tersendiri bagi saya. Kemudian dilanjutkan dengan menyambung permen karet pada pos 2, dan mengambil bola dengan sumpit tanpa boleh untuk menjatuhkan pipa pada pos 3, kemudian dilanjutkan dengan membuat gerabah pada pos 4. Outbond kali ini bagi saya tidak seberapa berkesan. Kemudian kita lanjut makan bersama di ladang. Saat makan saya tidak dapat duduk dengan nyaman karena kondisi tempat makan yang tidak muat untuk anak sebanyak itu. Setelah makan usai, kita harus pulang melewati rute yang sangat panjang dan melelahkan. Sesampainya di rumah, saya sudah sangat kecapekan, sehingga saya tertidur. Saat bangun, kita sudah harus bersiap-siap untuk mengikuti acara Sarahsehan. Pada acara tersebut, saya tidak dapat menangkap apa-apa karena sudah terlalu capek, banyak juga teman saya yang tidak mendengarkan, bahkan juga ada yang tidur. Setelah sarahsehan usai, kita melanjutkan acara pada hari itu dengan acara api unggun, pada acara ini ditampilkan penampilan-penampilan perwakilan kelas dan dance. Pada acara ini juga tidak terlalu berkesan bagi saya.
Setelah acara api unggun selesai, kami kemudian pulang ke homestay masing-masing. Sesampainya di homestay saya langsung tidur, karena sudah terlalu capek. Keesokan harinya pada hari ketiga di Desa Peniwen, saya bangun jam 6 pagi, kemudian saya melanjutkan membantu ibu membersihkan rumah, kemudian kita sudah bersiap-siap untuk pulang kembali ke Malang. Setelah selesai siap-siap, kita terus pergi ke gereja dengan membawa barang-barang kita. Di gereja kita melakukan ramah tamah, terus dilanjut makan siang, kemudian kembali ke Malang.
Dari kegiatan Live In ini banyak yang dapat saya ambil. Saya dapat mengerti bahwa apa yang kita ingin belum tentu yang terbaik untuk kita. Dan banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita, jadi janganlah kita mengeluh dengan apa yang tidak kita dapat. Kita harus selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Karna Tuhan selalu tahu apa yang kita rasa, apa yang kita butuh, dan apa yang terbaik untuk kita, Dia tidak pernah acuh tak acuh kepada kita, Dia selalu mendengarkan doa kita dari awal sampai akhirnya.
Susunan Acara
Hari ke-1
Waktu
|
Urutan Kegiatan
|
06.55-07.30
|
Doa Rosario
|
07.30-09.00
|
Misa Penutupan Rosario dan Berkat untuk Live
In
|
09.00-09.45
|
Breefing singkat tentang Live In
|
09.45-10.00
|
Persiapan berangkat
|
10.00-11.00
|
Berangkat
|
11.00-12.00
|
Perkenalan tentang Desa Peniwen dan program
gereja
|
12.00-13.00
|
Makan Siang
|
13.00-14.00
|
Pengarahan untuk Live In
|
14.00-15.00
|
Distribusi ke home stay
|
15.00-15.15
|
Perkenalan dengan tuan rumah
|
15.15-18.30
|
Free time (berinteraksi dengan keluarga)
|
18.30-20.00
|
Doa Patuwen (doa lingkungan tiap hari Kamis)
|
20.00-21.00
|
Berinteraksi dengan keluarga
|
21.00
|
Istirahat
|
Hari ke-2
Waktu
|
Urutan Kegiatan
|
04.00-07.30
|
Kegiatan sehari-hari
|
08.00-13.00
|
Kegiatan Bersama (Out Bond)
|
13.00-17.30
|
Berinteraksi dengan keluarga
|
18.00-21.00
|
Sarahsehan di Gereja
|
21.00-22.00
|
Api Unggun
|
22.00
|
Istirahat
|
Hari ke-3
Waktu
|
Urutan Kegiatan
|
04.00-08.30
|
Kegiatan sehari-hari
|
08.30-09.00
|
Packing, perpisahan (terima kasih dan mohon
maaf) dengan tuan rumah, lalu perjalanan menuju Gereja
|
09.00-11.30
|
Ramah Tamah
|
11.30-12.00
|
Makan Siang
|
12.00-13.30
|
Pulang
|
Dari kegiatan ini saya mengalami banyak sekali hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Pada hari pertama sebelum berangkat, kami melakukan Doa Rosario yang kemudian dilanjutkan dengan misa. Setelah misa usai, kita mendapat breefing singkat dari Bapak Kepala Sekolah. Setelah selesai breefing dan foto kelas, kita berangkat dengan menggunakan truk. Sesampainya disana kami diberi perkenalan tentang Desa Peniwen di gereja, tetapi sebelumnya kami makan siang terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan pengarahan dan pembagian homestay. Saat pembagian homestay kita harus berjalan cukup jauh, dengan bawaan yang banyak, terutama saya dapat rumah paling atas, itu membuat saya cukup untuk bad mood. Sesampainya di rumah betapa leganya kita, kemudian kita mulai memperkenalkan diri kami kepada pemilik rumah, mereka sangat baik sekali dengan kami, di rumah itu kami merasa sangat dimanja, bahkan lebih dimanja daripada di rumah sendiri.
Saat free time, kita mencoba untuk membantu menyiapkan makan malam. Sebenarnya saya kepingin keluar waktu itu, mengetahui teman-teman yang lain malah jalan-jalan. Ya, tapi karena sudah terlanjur membantu, tidak enak juga untuk tiba-tiba pergi, jadi ya hari itu sampai malam kami putuskan untuk di rumah membantu ibu. Saat malam harinya kami mengikuti kegiatan Patuwen, disana kami bertemu kembali dengan teman-teman, serasa rumah itu jadi penuh dengan anak-anak Santa Maria, sebenarnya saya jadi tidak enak juga karena kami duduk di dalam sedangkan warga malah duduk di luar. Ya tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur, acara doa itu menggunakan bahasa jawa, dan dengan cara ibadat Kristen, jadi saya tidak dapat mengerti apa yang sedang diomongkan oleh mereka, dan saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, alhasil akhirnya kita hanya bisa mengikuti acara semengerti kita.Setelah pulang dari Petuwen, sebenarnya saya sudah ingin beristirahat, tapi karena teman saya minta hpnya cepat dikembalikan, jadinya saya kembali ke gereja tempat perkenalan tadi siang. Di jalan itu merupakan pengalaman baru bagi saya, di tengah ketakutan saya pulang dan pergi cuma berdua dengan teman cewek pula, saat berdua jalan malam di desa sungguh tidak seperti kita di kota, kalau di kota jam sekian, jalanan masih sangat ramai, sedangkan di desa sudah tidak ada satu pun yang keluar dari rumah. Di desa itu juga banyak sekali anjing sehingga kita berdua sangat takut karena sudah malam, sekaligus pulang pergi harus berhadapan dengan banyak anjing yang menggonggong ke arah kita. Sesampainya di rumah kita berdua mandi keringat dan gemetaran, karena telah mengalami kejadian buruk pada malam pertama.
Dari kejadian itu membuat kita berdua tidak bisa untuk tidur sampai jam 12 malam, baru kita mulai dapat untuk terlelap. Hari kedua, pagi hari kami bangun pukul setengah 6, kemudian kami membantu ibu sebentar untuk membersihkan rumah, kemudian kami pun sibuk untuk bersiap-siap berangkat ke gereja. Hari kedua acara kita adalah outbond, tetapi kegiatan ini molor, sampai hampir siang, ya banyak sudah gerutuan yang telah kita ucapkan karena kemunduran jadwal ini, apalagi udara hari itu sangat panas sekali. Akhirnya outbond pun dimulai juga, saat badan sudah berkeringat karena panas dan rute yang lumayan panjang, di pos 1 kita disuruh untuk bermain air, hal ini juga membuat kesebalan tersendiri bagi saya. Kemudian dilanjutkan dengan menyambung permen karet pada pos 2, dan mengambil bola dengan sumpit tanpa boleh untuk menjatuhkan pipa pada pos 3, kemudian dilanjutkan dengan membuat gerabah pada pos 4. Outbond kali ini bagi saya tidak seberapa berkesan. Kemudian kita lanjut makan bersama di ladang. Saat makan saya tidak dapat duduk dengan nyaman karena kondisi tempat makan yang tidak muat untuk anak sebanyak itu. Setelah makan usai, kita harus pulang melewati rute yang sangat panjang dan melelahkan. Sesampainya di rumah, saya sudah sangat kecapekan, sehingga saya tertidur. Saat bangun, kita sudah harus bersiap-siap untuk mengikuti acara Sarahsehan. Pada acara tersebut, saya tidak dapat menangkap apa-apa karena sudah terlalu capek, banyak juga teman saya yang tidak mendengarkan, bahkan juga ada yang tidur. Setelah sarahsehan usai, kita melanjutkan acara pada hari itu dengan acara api unggun, pada acara ini ditampilkan penampilan-penampilan perwakilan kelas dan dance. Pada acara ini juga tidak terlalu berkesan bagi saya. Setelah acara api unggun selesai, kami kemudian pulang ke homestay masing-masing. Sesampainya di homestay saya langsung tidur, karena sudah terlalu capek. Keesokan harinya pada hari ketiga di Desa Peniwen, saya bangun jam 6 pagi, kemudian saya melanjutkan membantu ibu membersihkan rumah, kemudian kita sudah bersiap-siap untuk pulang kembali ke Malang. Setelah selesai siap-siap, kita terus pergi ke gereja dengan membawa barang-barang kita. Di gereja kita melakukan ramah tamah, terus dilanjut makan siang, kemudian kembali ke Malang.
Dari kegiatan Live In ini banyak yang dapat saya ambil. Saya dapat mengerti bahwa apa yang kita ingin belum tentu yang terbaik untuk kita. Dan banyak orang di luar sana yang tidak seberuntung kita, jadi janganlah kita mengeluh dengan apa yang tidak kita dapat. Kita harus selalu bersyukur dengan apa yang telah kita miliki. Karna Tuhan selalu tahu apa yang kita rasa, apa yang kita butuh, dan apa yang terbaik untuk kita, Dia tidak pernah acuh tak acuh kepada kita, Dia selalu mendengarkan doa kita dari awal sampai akhirnya.
Nama : Carrey Clarisa Singli
No : 3
Kamis, 31 Oktober 2013 adalah hari dimana angkatan kelas 11 SMAK St. Maria akan mengadakan Live In ke Peniwen yang terdapat didaerah Kromengan, kabupaten Malang. Desan Peniwen juga terdapat tepat di tengah – tengah antara Blitar dan Malang. Tapi sebelumnya, kami mengikuti penutupan doa Rosario dan setelah itu mendapatkan beberapa pengarahan dari para guru dan kepala sekolah. Mereka memberikan pengarahan dan harapan mereka terhadap kami saat di Peniwen yaitu untuk bersikap yang sopan. Selain itu, mereka juga mengharapkan agar kami semua dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan warga Peniwen terutama dengan orang tua asuh kami disana, serta kami diharapkan dapat mengambil point terpenting dari diadakannya Live In ini. Setelah mendengar pengarahan tersebut, kami pun berfoto bersama dengan wali kelas masing – masing. Kemudian, kami bersiap untuk pergi ke Peniwen dengan menaiki truk masing – masing dan kebetulan saya mendapat truk pertama.
Perjalannya menurut saya cukup lama karena ini adalah pertama kalinya saya pergi ke Peniwen. Sepanjang perjalan menuju Desa Peniwen, semakin terlihat banayak pohon dimana – mana yang membuat saya berpikir bahwa desa Peniwen adalah tempat yang nyaman dan masih bersih udaranya. Setelah beberapa lama, kami pun sampai di Peniwen. Tempat ini terlihat tidak terlalu ramai, dan lumayan bersih. Kami lalu berkumpul di gereja GKJW Peniwen yang terdapat di tengah – tengah kampung. Desa Peniwen terdiri dari beberapa kampung yaitu Kalongan, Kampung Tengah, dan Purukrejo.
Setelah kami sampai dan beristirahat sejenak, kami kemudian diberikan perkenalan tentang profil Desa Peniwen dan budaya serta kebiasaan apa saja yang ada didesa itu. Ternyata, sanagat banyak sekali budaya yang masih dipertahankan disana dan itulah alasan kami mengadakan Live In di desa Peniwen untuk mengenal dan mempelajari budaya – buday yang masih kental itu. Salah satu kebiasaan yang akan dilakukan oleh warga Peniwen adalah acara Petuwen yaitu mengunjungi rumah tetangga dan mengadakan doa. Dan hal itu dilakukan tepat pada hari itu saat kami baru tiba disana.
Sesudah mendengar beberapa pejelasan, kami kemudian diberi makan siang. Lalu, kami dibawa ke Home Stay masing – masing. Yaitu tempat yang akan kami tempati selama kami berada di desa Peiwen. Perjalananya cukup melelahkan karena kami harus berjalan dibawah panas terik matahari yang sangat menyengat. Selain itu, juga karena kami harus membawa barang bawaan kami yang berat. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di Home Stay kami di kampung Tengah tepatnya di rumah Pak Kuncoro, orang tua asuh kami.
Saya bersama ketiga teman lainnya yaitu Ika, Brenda, dan Bianca kemudian memberikan salam dan mulai berbincang – bindang dengan pemilik rumah atau Pak Kuncoro. Kami membicarakan banyak hal sampai kami lupa jika harus berristirahat. Pak kuncoro kemudian merasa kasihan dengan kami karena kami telah sangat lelah, dan menyuruh kami untuk beristirahat. Tapi, pada saat dikamar, kami merasa harus berkeliling untuk melihat teman – teman yang lain, tapi kami lalu mengurungkan niat karena kami diajak oleh kak Shinta, untuk mengambil buah salak. Kami kemudian mengikutinya pergi ke kebun salak yang ternyata berada disebelah rumah. Sangat menyenangkan bisa mengambil buah salah sendiri. Setelah itu, kami memintanya untuk pergi kesawah. Lalu kami diajak untuk pergi kesana. Pemandangan disana sangatlah bagus. Kami lalu menikmati pemandangan itu sebentar lali kembali kerumah dan mempersiapkan diri untuk pergi ke acara Patuwen dirumah salah satu warga kampung Tengah.
Kami kemudian pergi bersama dengan Pak Kuncoro dan kak Shinta. Sampai disana, kami mengikuti acara semacam doa bersama. Namun, ada hal baru yang sangat saya kagumi yaitu mereka melakukan ibadah dengan menggunakan bahasa Jawa Lama yang masih sangat kental. Meskipun saya juga tidak mengerti apa yang mereka katakana, tapi itulah yang menjadi pengalaman baru bagi saya karena dapat memdengarkan bahasa yang sangat asing bagi saya. Setelah ibadah itu selesai, kami kemudian pulang kerumah untuk beristirahat.
Jumat, 1 November 2013
Hari sudah berganti, dan kami haru bangun pukul 5.00 untuk membantu Pak Kuncoro bersama Ibu, untuk membersihkan rumah dan memasak. Brenda membantu membersihkan rumah sedangkan saya, ika, dan Bianca membantu kak shinta dan ibu untuk memasak. Sangat menyenagkan sekali dapat memasak sendiri. Lalu kami pun bersiap untuk pergi kegereja dan mengikuti acara selanjutnya yaitu outbound.
Selang beberapa lama, kami pun sampai di Gereja GKJW Peniwen untuk mengikuti outbound. Disana kami berkumpul lalu membagi kelompok sesuai dengan yang sudah ditentukan dan kami pun menuju ke temapat outbound. Kami melewati sawah dan sampai di pos pertama. Disana, kami memainkan game yaitu harus mengisi air sampai penuh pada pipa yang telah dilubangi. Meskipun gagal, tapi kami tetap senang. Lalu kami diberi permen karet dan melanjutkan perjalan kepos selanjutnya. Ternyata maksud dari diberikan permenkaret adalah untuk membuat benang menggunakan permen karet itu. Namun, kami tidak dapat membuatnya dengan benar dan kami dihukum dengan memberikan tinta hitam pada pipi kami. Lalu, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai pada pos terakhir yaitu pos ke empat. Setelah itu, kami kembali berjalan hingga sampai disatu pondok untuk beristirahat dan makan siang disana.
Rasa lelah sangat terasa saat tiba dipondok itu. Karena kami harus menempuh jalan yang sangat jauh ditambah lagi harus berjalan dibawah panasnya terik matahari. Kami lalu makan siang disana dan sesudah itu, kami kembali kerumah atau ke Home Stay kami masing – masing. Smapai di Home Stay, kami lalu beristirahat karena kami semua merasa sangat lelah sekali. Kami kemudian langsung melepas semua rasa lelah dengan beristirahat dan juga mengingat jika nanti malam akan ada acara selanjutnya yaitu Sarah Sehan dan Api Unggun maka kami harus menjaga stamina.
Sore harinya saat bangun, saya merasa kurang enak badan dan akhirnya saya tidak jadi mengikuti acara yang harus dihadiri oleh semua siswa itu. Saya lalu diberi obat oleh ibu Leni dan guru – guru lainnya lalu datang dan mencari tahu keadaan saya. Ada juga seorang perawat yang datang dan memberikan beberapa obat dan memeriksa saya. Saya lalu diminta untuk beristihat dan tidak boleh mengikuti acara – acara tersebut. Namun saya meminta Pak Hendra untuk bisa mengikuti acara api unggun karena saya sangat ingin mengikuti acara itu. Pak Hendra akhirnya dapat memberikan saya ijin untuk mengikuti acara itu tapi tidak usah mengikuti acara Sarah Sehan yaitu pemberian refleksi dari panitia kepada para murid.
Setelah acara Sarah Sehan selesai, saya kemudian dijemput oleh Pak Heli dan Ibu Leni untuk pergi keacara Api Unggun. Kami kemuadian sampai dan saya lalu bergabung dengan teman – teman lainnya dan mengikuti acara itu hingga selesai. Kami kemudian pulang ke Home Stay masing – masing untuk beristirahat.
Sabtu, 2 November 2013
Pagi ini, kami bersiap – siap untuk kembali Malang. Sebelum berkumpul digereja, kami masih berbincang dengan Pak Kuncoro dan meminta terimakahsih atas semua hal yang telah dia lakukan selama kami berada di sana, dan juga atas kesediannya untuk menampung kami dirumahnya. Selain itu, kami juga meminta maaf jika kami banyak melakukan kesalahan dan juga karena telah banyak merepotkan selama disana. Begitupun dengan pak Kuncoro, dia juga meminta maaf atas segala kekurangannya bersama keluarga dan atas ketidaknyamanan kami selama disana. Dan yang membuat saya terharu adalah saat pak Kuncoro memberikan pesan kepada kami untuk masa depan kami. Lalu kami juga didoakan sebelum berangkat. Setelah pukul 9.00 kami lalu berkumpul di Gereja GKJW Peniwen untuk pulang. Kami lalu meninggalkan Pak Kuncoro bersama keluarga.
Setelah sampai digereja, kami lalu diberikan makan pagi. Kemudian, kami melakukan doa bersama serta mengucapkan terimakasih bagi para warga didesa Peniwen. Sesudah itu, kami diarahkan ketruk masing – masing untuk melakukan perjalanan kembali ke Malang. Perjalan terasa lebih cepat dari yang saya kira sebelumnya. Tidak lam kemudian, kami sudah sampai disekolah. Kemudian kami pulang kerumah masing – masing untuk beristirahat.
Kamis, 31 Oktober 2013 adalah hari dimana angkatan kelas 11 SMAK St. Maria akan mengadakan Live In ke Peniwen yang terdapat didaerah Kromengan, kabupaten Malang. Desan Peniwen juga terdapat tepat di tengah – tengah antara Blitar dan Malang. Tapi sebelumnya, kami mengikuti penutupan doa Rosario dan setelah itu mendapatkan beberapa pengarahan dari para guru dan kepala sekolah. Mereka memberikan pengarahan dan harapan mereka terhadap kami saat di Peniwen yaitu untuk bersikap yang sopan. Selain itu, mereka juga mengharapkan agar kami semua dapat bersosialisasi dan berinteraksi dengan warga Peniwen terutama dengan orang tua asuh kami disana, serta kami diharapkan dapat mengambil point terpenting dari diadakannya Live In ini. Setelah mendengar pengarahan tersebut, kami pun berfoto bersama dengan wali kelas masing – masing. Kemudian, kami bersiap untuk pergi ke Peniwen dengan menaiki truk masing – masing dan kebetulan saya mendapat truk pertama.Perjalannya menurut saya cukup lama karena ini adalah pertama kalinya saya pergi ke Peniwen. Sepanjang perjalan menuju Desa Peniwen, semakin terlihat banayak pohon dimana – mana yang membuat saya berpikir bahwa desa Peniwen adalah tempat yang nyaman dan masih bersih udaranya. Setelah beberapa lama, kami pun sampai di Peniwen. Tempat ini terlihat tidak terlalu ramai, dan lumayan bersih. Kami lalu berkumpul di gereja GKJW Peniwen yang terdapat di tengah – tengah kampung. Desa Peniwen terdiri dari beberapa kampung yaitu Kalongan, Kampung Tengah, dan Purukrejo.
Setelah kami sampai dan beristirahat sejenak, kami kemudian diberikan perkenalan tentang profil Desa Peniwen dan budaya serta kebiasaan apa saja yang ada didesa itu. Ternyata, sanagat banyak sekali budaya yang masih dipertahankan disana dan itulah alasan kami mengadakan Live In di desa Peniwen untuk mengenal dan mempelajari budaya – buday yang masih kental itu. Salah satu kebiasaan yang akan dilakukan oleh warga Peniwen adalah acara Petuwen yaitu mengunjungi rumah tetangga dan mengadakan doa. Dan hal itu dilakukan tepat pada hari itu saat kami baru tiba disana.
Sesudah mendengar beberapa pejelasan, kami kemudian diberi makan siang. Lalu, kami dibawa ke Home Stay masing – masing. Yaitu tempat yang akan kami tempati selama kami berada di desa Peiwen. Perjalananya cukup melelahkan karena kami harus berjalan dibawah panas terik matahari yang sangat menyengat. Selain itu, juga karena kami harus membawa barang bawaan kami yang berat. Tidak lama kemudian, kami pun sampai di Home Stay kami di kampung Tengah tepatnya di rumah Pak Kuncoro, orang tua asuh kami.
Saya bersama ketiga teman lainnya yaitu Ika, Brenda, dan Bianca kemudian memberikan salam dan mulai berbincang – bindang dengan pemilik rumah atau Pak Kuncoro. Kami membicarakan banyak hal sampai kami lupa jika harus berristirahat. Pak kuncoro kemudian merasa kasihan dengan kami karena kami telah sangat lelah, dan menyuruh kami untuk beristirahat. Tapi, pada saat dikamar, kami merasa harus berkeliling untuk melihat teman – teman yang lain, tapi kami lalu mengurungkan niat karena kami diajak oleh kak Shinta, untuk mengambil buah salak. Kami kemudian mengikutinya pergi ke kebun salak yang ternyata berada disebelah rumah. Sangat menyenangkan bisa mengambil buah salah sendiri. Setelah itu, kami memintanya untuk pergi kesawah. Lalu kami diajak untuk pergi kesana. Pemandangan disana sangatlah bagus. Kami lalu menikmati pemandangan itu sebentar lali kembali kerumah dan mempersiapkan diri untuk pergi ke acara Patuwen dirumah salah satu warga kampung Tengah.Kami kemudian pergi bersama dengan Pak Kuncoro dan kak Shinta. Sampai disana, kami mengikuti acara semacam doa bersama. Namun, ada hal baru yang sangat saya kagumi yaitu mereka melakukan ibadah dengan menggunakan bahasa Jawa Lama yang masih sangat kental. Meskipun saya juga tidak mengerti apa yang mereka katakana, tapi itulah yang menjadi pengalaman baru bagi saya karena dapat memdengarkan bahasa yang sangat asing bagi saya. Setelah ibadah itu selesai, kami kemudian pulang kerumah untuk beristirahat.
Jumat, 1 November 2013
Hari sudah berganti, dan kami haru bangun pukul 5.00 untuk membantu Pak Kuncoro bersama Ibu, untuk membersihkan rumah dan memasak. Brenda membantu membersihkan rumah sedangkan saya, ika, dan Bianca membantu kak shinta dan ibu untuk memasak. Sangat menyenagkan sekali dapat memasak sendiri. Lalu kami pun bersiap untuk pergi kegereja dan mengikuti acara selanjutnya yaitu outbound.Selang beberapa lama, kami pun sampai di Gereja GKJW Peniwen untuk mengikuti outbound. Disana kami berkumpul lalu membagi kelompok sesuai dengan yang sudah ditentukan dan kami pun menuju ke temapat outbound. Kami melewati sawah dan sampai di pos pertama. Disana, kami memainkan game yaitu harus mengisi air sampai penuh pada pipa yang telah dilubangi. Meskipun gagal, tapi kami tetap senang. Lalu kami diberi permen karet dan melanjutkan perjalan kepos selanjutnya. Ternyata maksud dari diberikan permenkaret adalah untuk membuat benang menggunakan permen karet itu. Namun, kami tidak dapat membuatnya dengan benar dan kami dihukum dengan memberikan tinta hitam pada pipi kami. Lalu, kami melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampai pada pos terakhir yaitu pos ke empat. Setelah itu, kami kembali berjalan hingga sampai disatu pondok untuk beristirahat dan makan siang disana.
Rasa lelah sangat terasa saat tiba dipondok itu. Karena kami harus menempuh jalan yang sangat jauh ditambah lagi harus berjalan dibawah panasnya terik matahari. Kami lalu makan siang disana dan sesudah itu, kami kembali kerumah atau ke Home Stay kami masing – masing. Smapai di Home Stay, kami lalu beristirahat karena kami semua merasa sangat lelah sekali. Kami kemudian langsung melepas semua rasa lelah dengan beristirahat dan juga mengingat jika nanti malam akan ada acara selanjutnya yaitu Sarah Sehan dan Api Unggun maka kami harus menjaga stamina.
Sore harinya saat bangun, saya merasa kurang enak badan dan akhirnya saya tidak jadi mengikuti acara yang harus dihadiri oleh semua siswa itu. Saya lalu diberi obat oleh ibu Leni dan guru – guru lainnya lalu datang dan mencari tahu keadaan saya. Ada juga seorang perawat yang datang dan memberikan beberapa obat dan memeriksa saya. Saya lalu diminta untuk beristihat dan tidak boleh mengikuti acara – acara tersebut. Namun saya meminta Pak Hendra untuk bisa mengikuti acara api unggun karena saya sangat ingin mengikuti acara itu. Pak Hendra akhirnya dapat memberikan saya ijin untuk mengikuti acara itu tapi tidak usah mengikuti acara Sarah Sehan yaitu pemberian refleksi dari panitia kepada para murid.Setelah acara Sarah Sehan selesai, saya kemudian dijemput oleh Pak Heli dan Ibu Leni untuk pergi keacara Api Unggun. Kami kemuadian sampai dan saya lalu bergabung dengan teman – teman lainnya dan mengikuti acara itu hingga selesai. Kami kemudian pulang ke Home Stay masing – masing untuk beristirahat.
Sabtu, 2 November 2013
Pagi ini, kami bersiap – siap untuk kembali Malang. Sebelum berkumpul digereja, kami masih berbincang dengan Pak Kuncoro dan meminta terimakahsih atas semua hal yang telah dia lakukan selama kami berada di sana, dan juga atas kesediannya untuk menampung kami dirumahnya. Selain itu, kami juga meminta maaf jika kami banyak melakukan kesalahan dan juga karena telah banyak merepotkan selama disana. Begitupun dengan pak Kuncoro, dia juga meminta maaf atas segala kekurangannya bersama keluarga dan atas ketidaknyamanan kami selama disana. Dan yang membuat saya terharu adalah saat pak Kuncoro memberikan pesan kepada kami untuk masa depan kami. Lalu kami juga didoakan sebelum berangkat. Setelah pukul 9.00 kami lalu berkumpul di Gereja GKJW Peniwen untuk pulang. Kami lalu meninggalkan Pak Kuncoro bersama keluarga.
Setelah sampai digereja, kami lalu diberikan makan pagi. Kemudian, kami melakukan doa bersama serta mengucapkan terimakasih bagi para warga didesa Peniwen. Sesudah itu, kami diarahkan ketruk masing – masing untuk melakukan perjalanan kembali ke Malang. Perjalan terasa lebih cepat dari yang saya kira sebelumnya. Tidak lam kemudian, kami sudah sampai disekolah. Kemudian kami pulang kerumah masing – masing untuk beristirahat.- Aditya Wahyu Satria Yulianto
- Ardian Kurniawan
- Carrey C Singli
- Catherine
- Chintya I Joyo
- Christian Putra S (Pembuat Blog)
- Claudia Dwi
- Diana A.M Hattu
- Elvara Nadya Adventy
- Frederico
- Hesti L Ekawati
- Jeffry Sanjaya
- Jerryl Jeovano
- Katherine Nozaria
- Kevin Prabowo Kosaputra
- Laurentius Ivan T
- Lisa Novena T
- Marcellino A.S
- Marietta Nathania
- Miki Saraswati
- Misa Samuel J Tommy
- Oktavianus Putra B .P
- Priskila Okatviani P
- Prita Kurnia Natalia
- Raynald O.S
- Samuel Alberth Juwono
- Sheila Rosalind S
- Sherly Sari Dewi
- Sri WIdyaanti Wijaya
- Stephanie Devina Agustin Hake
- Tika Andayani
- Vania Valentisna
- Yuliana Kristanyo
- Monica Djami
- Raymond S.H
Live In kali ini diberi tema DOCTORS THREE dengan kepanjangan dari Do Care to Others Through Experiencing Education dengan tujuan kita dapat berbaur dengan masyarakat sekitar dan dapat belajar hidup sederhana dari lingkungan pedesaan.
Live In kali ini diadakan di Desa Peniwen Malang Jawa Timur dengan tempat tinggal dibagi menjadi 3 desa. sekitar 70 rumah warga dipakai untuk tempat tinggal anak-anak Santa Maria kelas XI. Dusun yang terpakai adalah dusun Kalongan (Laki-Laki), Kampung Tengah (Perempuan),dan Putukrejo (Campuran). Acara Live in diadakan dari tanggal 31 Oktober 2013 hingga2 November 2013.
Nama : Samuel Alberth
No : 26
Pada hari Kamis, 31 Oktober 2013 kami semua anak kelas XI pergi ke Desa Peniwen bertujuan untuk Live in. Live in ini berlangsung selama 3 hari 2 malam. Live in pada tahun ini mengambil tema “Doctors Three (Do Care to Others Through Experiencing Education).” Mengapa sekolah mengambil tema tersebut? Tema ini berartikan peduli terhadap sesama melalui pendidikan.
Desa Peniwen terletak di wilayah Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Di desa tersebut terbagi menjadi 3 dusun yaitu: Kalongan, Tengah, dan Puthuk Rejo. Warga di sana 98% mayoritas agama Kristen. Di sana rata-rata mata pencahariannya adalah petani.
Pada hari pertama kami kumpul di gereja untuk penjelasan program dan tata tertib yang ada di sana. Setelah penjelasan kami diantar ke homestay masing-masing. Untuk pergi ke homestay kita jalan kaki dan sangat melelahkan. Setelah sampai ke masing-masing homestay kita berkenalan dengan keluarga di sana dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, setelah itu kita makan siang di homestay masing-masing. Di homestay kami kita diberi camilan dan secangkir the panas. Setelah selesai semua kita diberi waktu untuk beristirahat sampai jam 18.30. Setelah kita istirahat kita ada acara patuwen di umat setempat. Setelah acara patuwen selesai kita kembali ke homestay masing-masing untuk makan malam dan beristirahat.
Pada hari kedua kita bangun pada pk. 04.00 untuk membantu keluarga yang ada di homestay kita masing-masing. Setelah kita membantu keluarga yang ada di situ acara kita selanjutnya yaitu outbond. Sebelum kita outbond kita se-homestay akan makan pagi. Outbond berlangsung selama 5 jam setengah (07.30-13.00). Setelah selesai outbond kita semua makan siang. Setelah makan siang selesai kita semua kembali ke homestay masing-masing untuk beristirahat. Setelah istirahat acara kita selanjutnya yaitu Sarasehan. Pada waktu sarasehan selesai kita semua di beri makanan dan minuman kecil. Setelah selesai makan acara selanjutnya adalah api unggun. Di acara api unggun itu masing-masing kelas membawakan satu acara khusus. Acara api unggun itu berlangsung sampai jam 22.00. Setelah acara api unggun selesai kita kembali ke homestay masing-masing untuk beristirahat.
Pada hari ketiga kita bangun pada jam yang sama yaitu jam 04.00 untuk membantu keluarga dan menyiapkan makan pagi. Setelah makan selesai kita packing untuk siap-siap pulang ke sekolah. Setelah kita semua sudah packing, pada jam 10.00 kita pergi ke gereja untuk ramah tamah. Pada pk. 11.30 kita makan siang di gereja itu. Setelah makan siang sudah selesai kita semua siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah tiga hari itu aku mendapatkan sebuah pelajaran yang tidak kudapatkan di sekolah maupun di rumah. Di mana di desa itu aku mendapatkan pelajaran tentang hidup. Di sana masyarakat yang tinggal sangatlah ramah dan juga saling membantu satu sama dengan yang lain.
Pada hari Kamis, 31 Oktober 2013 kami semua anak kelas XI pergi ke Desa Peniwen bertujuan untuk Live in. Live in ini berlangsung selama 3 hari 2 malam. Live in pada tahun ini mengambil tema “Doctors Three (Do Care to Others Through Experiencing Education).” Mengapa sekolah mengambil tema tersebut? Tema ini berartikan peduli terhadap sesama melalui pendidikan.
Desa Peniwen terletak di wilayah Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Di desa tersebut terbagi menjadi 3 dusun yaitu: Kalongan, Tengah, dan Puthuk Rejo. Warga di sana 98% mayoritas agama Kristen. Di sana rata-rata mata pencahariannya adalah petani.
Pada hari pertama kami kumpul di gereja untuk penjelasan program dan tata tertib yang ada di sana. Setelah penjelasan kami diantar ke homestay masing-masing. Untuk pergi ke homestay kita jalan kaki dan sangat melelahkan. Setelah sampai ke masing-masing homestay kita berkenalan dengan keluarga di sana dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, setelah itu kita makan siang di homestay masing-masing. Di homestay kami kita diberi camilan dan secangkir the panas. Setelah selesai semua kita diberi waktu untuk beristirahat sampai jam 18.30. Setelah kita istirahat kita ada acara patuwen di umat setempat. Setelah acara patuwen selesai kita kembali ke homestay masing-masing untuk makan malam dan beristirahat.
Pada hari kedua kita bangun pada pk. 04.00 untuk membantu keluarga yang ada di homestay kita masing-masing. Setelah kita membantu keluarga yang ada di situ acara kita selanjutnya yaitu outbond. Sebelum kita outbond kita se-homestay akan makan pagi. Outbond berlangsung selama 5 jam setengah (07.30-13.00). Setelah selesai outbond kita semua makan siang. Setelah makan siang selesai kita semua kembali ke homestay masing-masing untuk beristirahat. Setelah istirahat acara kita selanjutnya yaitu Sarasehan. Pada waktu sarasehan selesai kita semua di beri makanan dan minuman kecil. Setelah selesai makan acara selanjutnya adalah api unggun. Di acara api unggun itu masing-masing kelas membawakan satu acara khusus. Acara api unggun itu berlangsung sampai jam 22.00. Setelah acara api unggun selesai kita kembali ke homestay masing-masing untuk beristirahat.
Pada hari ketiga kita bangun pada jam yang sama yaitu jam 04.00 untuk membantu keluarga dan menyiapkan makan pagi. Setelah makan selesai kita packing untuk siap-siap pulang ke sekolah. Setelah kita semua sudah packing, pada jam 10.00 kita pergi ke gereja untuk ramah tamah. Pada pk. 11.30 kita makan siang di gereja itu. Setelah makan siang sudah selesai kita semua siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah tiga hari itu aku mendapatkan sebuah pelajaran yang tidak kudapatkan di sekolah maupun di rumah. Di mana di desa itu aku mendapatkan pelajaran tentang hidup. Di sana masyarakat yang tinggal sangatlah ramah dan juga saling membantu satu sama dengan yang lain.
Nama : Aditya Wahyu Y
No : 1
Pengalaman yang unik saat mengikuti live in banyak hal yang dilalui baik bersama maupun dalam diri sendiri. Live in berlangsung selama 3 hari 2 malam di Desa Peniwen Kabupaten Kepanjen. Masyarakat disana bermayoritas beragama Kristen. Tugas saya disana adalah untuk mengikuti aktivitas yang dilakukan oleh orang tua asuh .
Kami berangkat menggunakan truk tentara, bagaikan seorang serdadu yang berperang bedanya saya dan kawan-kawan berperang melawan semua egoisme untuk membantu sesama. Walaupun dalam perjalan yang dilewati tidak semua berlangsung nyaman karena ada dari sebagian kami yang terbentur oleh tiang tempat duduk. Namun Tuhan tetap menyertai kami sehingga kami datang dengan selamat. Itu semua berkat doa rosario dan misa yang dilakukan sebelum berangkat
Pada kedatangan kami , kami diajak melakukan briefing dengan pihak peniwen dan kemudian menuju rumah home stay. Acara ini dilakukan di gereja . Jujur nama saya berwalan dengan huruf “a” , saya kira rumah yang menjadi rumah saya dekat dengan gereja yang menjadi tempat singgah kami tapi ternyata rumah yang menjadi tempat tinggal saya dan 3 orang teman lainnya berada paling ujung dan akhir. Sungguh membuat kesabaran dan stamina saya diuji. Saat saya tiba di rumah milik Ibu Sri saya bersama teman teman diajak berbicara mengenai hal-hal umum yang harus dibicarakan saat berkenalan. Sungguh keluarga ini membuat saya belajar agar dapat berkomunikasi dengan akrab dan nyaman. Saya dan teman-teman dipersilakan untuk istirahat. Pengalaman yang unik saat ke kamar mandi saya dikejutkan oleh anjing . Di desa ini sebagian besar memelihara anjing, saya disini bagaikan melakukan terapi takut anjing. Hari pertama saat siang sampai sore tidak banyak yang saya lakukan. Saya hanya bertanya mengenai biodata keluarga Bu Sri.
Saat malam hari saya diajak Bu Sri untuk ibadah di suatu balai . Nampak disana banyak masyrakat yang datang .Saat itu saya berpikir saya harus seperti warga peniwen yang taat beribadah. Setelah ibadah saya , teman-teman, dan warga sekitar makan dan minum bersama , kegiatan ini menimbulkan kerukunan.
Pada hari kedua ada kegiatan outbond terjadi suatu insiden disana karena ada keusilan ,sehingga ada kelompok yang tersesat . Dalam outbond kami diajari untuk bekerja sama dan jujur saya berkelompok dengan teman teman yang masih belum kenal . Didalam outbond akhirnya saya lebih mengenal teman-teman lebih banyak tanpa memandang jurusan , kelas dll
Pada saat malam ada juga kegiatan sarasehan di gereja. Jarak yang ditempuh sangat jauh sehingga jujur pada acara itu saya ketiduran. Dan teman teman yang usil sehingga saya difoto.Acara berlanjut dengan kegiatan api unggun . Disana banyak siswa yang menampilkan bakatnya . Disana saya belajar untuk bersyukur dan memanfaatkan bakat yang saya punya. Pengalaman yang unik saat saya pulang dalam perjalanan saya diikuti anjing dan digonggongi, tapi saya tenang dan dapat pulang.

Hari ketiga berlangsung seperti biasa seperti aktivitas dengan keluarga. Dan kemudian berpamitan untuk pulang. Saat pamitan saya mencium tangan dari Eyang dan Ibu Sri untuk mengucapkan terima kasih dan maaf.Saya berkumpul di gereja dan kemudian pulang.
![]()
![]()
Hal hal yang saya lakukan adalah merapikan tempat tidur , membersikan halaman, bermain dengan anak Bu Sri . Ucapakan terima kasih dan syukur saya panjatkan pada Tuhan karena pengalaman yang saya alami mungkin tidak akan berulang.
No : 1
Pengalaman yang unik saat mengikuti live in banyak hal yang dilalui baik bersama maupun dalam diri sendiri. Live in berlangsung selama 3 hari 2 malam di Desa Peniwen Kabupaten Kepanjen. Masyarakat disana bermayoritas beragama Kristen. Tugas saya disana adalah untuk mengikuti aktivitas yang dilakukan oleh orang tua asuh .
Kami berangkat menggunakan truk tentara, bagaikan seorang serdadu yang berperang bedanya saya dan kawan-kawan berperang melawan semua egoisme untuk membantu sesama. Walaupun dalam perjalan yang dilewati tidak semua berlangsung nyaman karena ada dari sebagian kami yang terbentur oleh tiang tempat duduk. Namun Tuhan tetap menyertai kami sehingga kami datang dengan selamat. Itu semua berkat doa rosario dan misa yang dilakukan sebelum berangkatPada kedatangan kami , kami diajak melakukan briefing dengan pihak peniwen dan kemudian menuju rumah home stay. Acara ini dilakukan di gereja . Jujur nama saya berwalan dengan huruf “a” , saya kira rumah yang menjadi rumah saya dekat dengan gereja yang menjadi tempat singgah kami tapi ternyata rumah yang menjadi tempat tinggal saya dan 3 orang teman lainnya berada paling ujung dan akhir. Sungguh membuat kesabaran dan stamina saya diuji. Saat saya tiba di rumah milik Ibu Sri saya bersama teman teman diajak berbicara mengenai hal-hal umum yang harus dibicarakan saat berkenalan. Sungguh keluarga ini membuat saya belajar agar dapat berkomunikasi dengan akrab dan nyaman. Saya dan teman-teman dipersilakan untuk istirahat. Pengalaman yang unik saat ke kamar mandi saya dikejutkan oleh anjing . Di desa ini sebagian besar memelihara anjing, saya disini bagaikan melakukan terapi takut anjing. Hari pertama saat siang sampai sore tidak banyak yang saya lakukan. Saya hanya bertanya mengenai biodata keluarga Bu Sri.
Saat malam hari saya diajak Bu Sri untuk ibadah di suatu balai . Nampak disana banyak masyrakat yang datang .Saat itu saya berpikir saya harus seperti warga peniwen yang taat beribadah. Setelah ibadah saya , teman-teman, dan warga sekitar makan dan minum bersama , kegiatan ini menimbulkan kerukunan.
Pada hari kedua ada kegiatan outbond terjadi suatu insiden disana karena ada keusilan ,sehingga ada kelompok yang tersesat . Dalam outbond kami diajari untuk bekerja sama dan jujur saya berkelompok dengan teman teman yang masih belum kenal . Didalam outbond akhirnya saya lebih mengenal teman-teman lebih banyak tanpa memandang jurusan , kelas dll
Pada saat malam ada juga kegiatan sarasehan di gereja. Jarak yang ditempuh sangat jauh sehingga jujur pada acara itu saya ketiduran. Dan teman teman yang usil sehingga saya difoto.Acara berlanjut dengan kegiatan api unggun . Disana banyak siswa yang menampilkan bakatnya . Disana saya belajar untuk bersyukur dan memanfaatkan bakat yang saya punya. Pengalaman yang unik saat saya pulang dalam perjalanan saya diikuti anjing dan digonggongi, tapi saya tenang dan dapat pulang.

Hari ketiga berlangsung seperti biasa seperti aktivitas dengan keluarga. Dan kemudian berpamitan untuk pulang. Saat pamitan saya mencium tangan dari Eyang dan Ibu Sri untuk mengucapkan terima kasih dan maaf.Saya berkumpul di gereja dan kemudian pulang.
Navigation


